Skip navigation

Priyono, S.Pt

Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro

Email: priyono.spt@gmail.com

PENDAHULUAN

Kemiskinan merupakan masalah yang sampai saat ini masih dihadapi oleh bangsa Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan adanya krisis ekonomi dan moneter mulai tahun 2007, sehingga inflasi tidak dapat dikendalikan dan harga-harga bahan kebutuhan pokok masyarakat melambung tinggi. Oleh karena itu, kemiskinan merupakan hal yang bersifat komplek dan multidimensi, sehingga jika masalah kemiskinan sudah dapat diatasi maka permasalahan-permasalahan yang lainnya juga akan lebih mudah untuk diatasi.

Pemerintah telah banyak mengupayakan strategi dan kebijakan pembangunan untuk mengatasi kemiskinan. Salah satunya adalah melalui pendekatan pemberdayaan keluarga yang mengacu pada UU no. 10 tahun 1992 yang pelaksanaannya diatur dalam Inpres no 3 tahun 1996 tentang pembangunan keluarga sejahtera dalam rangka peningkatan penanggulangan kemiskinan (Handayani, 2005).

Penekanan pada Inpres no 3 ini yaitu usaha yang terpadu dan menyeluruh yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam membantu meningkatkan kesejahtraan pada keluarga yang masih dalam tahap pra sejahtra dan sejahtera 1 agar mampu meningkatkan kemampuan, kemauan dan potensi yang dimiliki untuk dapat mengangkat diri dan keluarganya dari ketertinggalan dalam bidang sosial dan ekonomi.

Saat ini, usaha ternak pada masyarakat di pedesaan umumnya hanya dilakukan sebagai sambilan dan hanya sebagian kecil yang menjadikannya sebagai mata pencaharian utama. Jumlah kepemilikan ternaknya juga terbatas, misalnya rata-rata kepemilikan ternak sapi potong di Kabupaten Banjarnegara kurang dari 5 ekor per keluarga petani peternak (Priyono, 2008). Hal tersebut mengakibatkan kontribusi pendapatan dari usaha ternak kecil dan petani peternak belum mampu meningkatkan kesejahtraan keluarga.

Kecilnya skala kepemilikan ternak para keluarga petani peternak membutuhkan adanya penambahan modal untuk memperluas skala usahanya. Ismawan (2003) menyatakan bahwa pengusaha kecil aksesbilitas modal (permasalahan permodalan) merupakan masalah utama. Oleh karena itu, pemberian permodalan dalam bentuk kredit perlu diberikan. Pemberian kredit pada petani peternak dengan skala usaha kecil perlu dilakukan untuk membantu memanfaatkan tenaga, waktu, sumberdaya dan kreatifitas petani peternak dalam usaha untuk meningkatkan kesejahtraan keluarga.

PEMBAHASAN

Kemiskinan

Kemiskinan merupakan masalah yang bersifat kompleks dan multidimensi. Suparlan (1995) mengemukakan kemiskinan adalah standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umumnya berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Lebih lanjut Bappenas (1993) mendefiniskan kemiskinan sebagai suatu situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena dikehendaki oleh simiskin, akan tetapi karena tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya.

Keberadaan keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat dapat membantu usaha untuk menanggulangi masalah kemiskinan. Hal tersebut dicapai dengan cara member peluang pada keluarga untuk mengembangkan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Jika hampir semua keluarga masyarakat Indonesia sudah dalam tahap sejahtera, tentunya masalah kemiskinan sudah dapat ditekan.

Bappenas (1996) menyatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan keluarga masuk dalam keluarga tahap pra sejahtera dan sejahtera 1 yaitu dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kesakitan, kebodohan, ketidaktauan, ketidakterampilan, ketinggalan teknologi, dan ketidak mampuan modal. Sedangkan faktor eksternal meliputi struktur sosial ekonomi yang menghambat, nilai-nilai dan unsur budaya yang kurang mendukung dan kurangnya akses untuk dapat memanfaatkan fasilitas pembangunan.

Pemberian Kredit

Penanggulangan kemiskinan pada keluarga petani peternak yaitu dengan memanfaatkan potensi yang ada pada keluarga tersebut. Permasalah modal dapat dibantu dengan adanya pemberian kredit dengan bunga yang tidak tinggi dan sesuai dengan kemampuan keluarga petani peternak. Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan ditangguhkan pada suatu jangka waktu yang disepakati (Muljono, 1996).

Pemberian kredit ini harus disesuaikan dengan usaha yang sedang dijalankan oleh peternak. Kredit diberikan pada usaha tani ternak yang produktif. Sehingga kemungkinan penyalahgunaan kredit dapat dapat diminimalisir. Disamping adanya pemberian kredit, petani peternak juga diberikan motivasi dan masukan-masukan mengenai teknologi-teknologi baru yang dapat diaplikasikan pada usaha tani ternaknya, sehingga usaha tani ternak menjadi lebih baik dan kesehteraan masyrakat dapat meningkat.

Sasaran dan Penggunaan Pemberian Kredit

Sasaran dan penggunaan pemberian kredit harus sesuai dan benar-benar tepat diberikan pada keluarga yang memiliki usaha tani ternak yang produktif. Sasaran pemberian kredit secara langsung dapat diberikan kepada keluarga petani peternak yang memiliki usaha tani ternak produktif. Sedangkan pemberian kredit secara tidak langsung diberikan pada tokoh atau institusi masyarakat, instansi pemerintah maupun swasta yang peduli dan berpartisipasi aktif untuk turut mensukseskan program penaggulangan kemiskinan.

Pemanfaatan pemberian kredit ditujukan untuk modal usaha ekonomi produktif dan bukan untuk kebutuhan konsumtif. Hal tersebut dilakukan karena jika digunakan untuk kebutuhan konsumtif, maka tidak akan menghasilkan laba dan tidak meningkatkan pendapatan. Contoh kebutuhan konsumtif di sini yaitu pemenuhan kebutuhan rumah tangga, membayar hutang, dan biaya sekolah. Pemanfaatan kredit sebagai modal usaha maka diharapkan akan didapatkan peningkatan pendapatan sehingga memperoleh laba. Laba yang diperoleh dapat digunakan untuk menambah modal dan memperluas usaha, sehingga usaha dapat meningkat dan kesejahtraan masyarakat juga akan meningkat.

KESIMPULAN

Pemberian fasilitas kredit pada petani peternak dengan skala usaha kecil perlu dilakukan untuk membantu memanfaatkan tenaga, waktu, sumberdaya dan kreatifitas petani peternak dalam usaha untuk memperluas usaha dalam rangka untuk meningkatkan kesejahtraan keluarga petani peternak.

DAFTAR PUSTAKA

Bappenas. 1993. Panduan Program Inpres Desa Tertinggal. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta.

Bappenas. 1996. Panduan Pembangunan Keluarga Sejahtera dalam Rangka Peningkatan Penanggulangan Kemiskinan. Kantor Menteri Negara Kependudukan BKKBN. Jakarta.

Handayani, N. 2005. Dana KUKESRA dan Peningkatan Pendapatan Usaha Anggota Kelompok UPPKS di Desa Tawangsari KEcamatan Teras Kabupaten Boyolali.

Ismawan, B. 2003. Peran Lembaga Keuangan Mikro. Journal of Indonesian Economy & Business. Penerbit Fakultas Ekonomi UGM. Yogyakarta.

Muljono, T. P. 1996. Manajemen Perkreditan bagi Bank Komersiil. BPFE. Yogyakarta.

Priyono. 2008. Studi Keterkaitan Antara Ikatan Sosial Dengan Pendapatan dan Efisiensi Ekonomi Usaha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Banjarnegara. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED Purwokerto.

Suparlan, P. 1995. Kemiskinan di Perkotaan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: