Skip navigation

Priyono, S.Pt

Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro

Email: priyono.spt@gmail.com

 PENDAHULUAN

 Setiap peternak yang memelihara ternak untuk dijual atau dikomersilkan selalu mengharapkan dapat memperoleh keuntungan yang setinggi-tingginya dengan biaya tertentu. Hal ini merupakan prinsip ekonomi yang sudah mengakar pada setiap orang yang melakukan usaha, baik usaha pertanian, peternakan maupun usaha komersil yang lain. Saat ini yang menjadi prioritas dan menjadi perhatian adalah kepada aspek modal finansial. Dimana diatur sedemikian rupa untuk dapat memaksimumkan keuntungan dan meminimumkan biaya. Seperti, penggunaan investasi yang tepat, menentukan fungsi produksi, fungsi keuntungan, efisiensi usaha dan kelayakan usaha.

Jika kita mengamati dengan cermat, sebetulnya suatu pembangunan dapat berjalan dengan lancar dan maju jika sebagian warga negara menggunakan modal finansial dengan diimbangi modal sosial. Modal finansial adalah sejumlah uang yang dapat digunakan untuk membeli fasilitas dan alat-alat produksi perusahaan saat ini (misalnya pabrik, mesin, peralatan, kantor, kendaraan) atau sejumlah uang yang dihimpun atau ditabung untuk investasi dimasa depan (Suharto, 2007). Modal finansial ini mempunyai konsep yang mudah dipahami oleh semua orang, bahkan orang yang tidak mengenyam pendidikan formal juga dapat memahami konsep modal finansial ini.

 

PEMBAHASAN

 

Dewasa ini mulai ramai dikembangkan penelitian-penelitian mengenai modal sosial. Peneliti ingin menggugah kesadaran masyarakat bahwa modal sosial tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan modal finansial. Modal sosial ini memerlukan pemahaman yang lebih dibandingkan dengan modal finansial. Modal sosial dapat diartikan sebagai sumber (resource) yang timbul dari adanya interaksi antara orang-orang dalam suatu komunitas (Suharto, 2007). Jadi modal sosial dapat diukur dari hasil interaksi dan pengukurannya memerlukan ketelitian yang lebih. Modal sosial yang diantaranya terdiri dari kepercayaan, kohesifitas, altruisme, gotong royong, jaringan dan kolaborasi sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui beragam mekanisme (Blakeley dan Suggate, 1998; Suharto 2005a, Suharto 2005b). Sebagian besar orang dapat memahami modal sosial jika diberikan contoh-contohnya dalam aplikasi kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh aplikatifnya yaitu:

Ternak sapi potong merupakan ternak yang menjadi andalan bangsa Indonesia. Hal tersebut didukung dengan rencana pemerintah dalam mencanangkan program swasembada daginng. Sehingga bangsa Indonesia tercukupi kebutuhan akan protein hewani dengan meningkatnya konsumsi masyarakat akan daging. Jumlah kebutuhan 6 gram protein hewani dapat tercukupi. Daging sapi merupakan daging pilihan masyarakat dibandingkan dengan dari daging ayam.

Ternak sapi potong banyak dibudidayakan oleh masyarakat mengingat kebutuhan akan daging tidak pernah menurun dan nilai dari daging umumnya selalu stabil. Masyarakat peternak Indonesia lebih banyak yang mengusahakan penggemukan sapi potong (fattening) karena pemeliharaan relatif mudah dan cepat yaitu sekitar 4 sampai 7 bulan. Peternak membeli sapi bakalan kemudian digemukkan dan setelah 4 sampai 7 bulan dijual untuk dipotong. Jenis sapi yang biasa digemukkan yaitu Simmental, Peranakan FH dan Peranakan Ongole.

Peternak sapi potong rakyat umumnya membentuk kelompok tani ternak dalam melakukan aktivitas usahanya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan peternak dalam adopsi teknologi baru, perkembangan harga ternak, pakan, pemeliharaan, kesehatan dan lain sebagainya. Dalam kelompok inilah kelihatan nyata sekali modal sosial yang dimiliki peternak dapat diukur. Peternak dengan modal sosial yang tinggi cenderung akan berusaha lebih baik, sehingga pendapatan yang diterima tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian Priyono (2008) yang menyatakan bahwa ikatan sosial (modal sosial) memiliki pengaruh yang nyata terhadap pendapatan dan efisiensi ekonomi usaha ternak sapi potong. Semakin tinggi modal sosial, maka berkorelasi positif dengan pendapatan dan efisiensi ekonomi usaha. Sehingga apabila modal finansial dan modal sosial dilakukan secara seimbang, maka pembangunan ekonomi masyarakat dapat maju.

 

KESIMPULAN

 

Peternak sapi potong rakyat umumnya membentuk kelompok tani ternak dalam melakukan aktivitas usahanya. Peternak dengan modal sosial yang tinggi dalam kegiatan usaha kelompok cenderung akan berusaha lebih baik, sehingga usaha ternak sapi potong meningkat dan pendapatan yang diterima tinggi

  DAFTAR PUSTAKA

Blakeley, Roger dan D. Suggate. 1997. “Public Policy Development” dalam David Robinson (ed), Social Capital dan Policy Development, Wellington: The Institute of Policy Studies: 80-100.

 Priyono. 2008. Studi Keterkaitan Antara Ikatan Sosial Dengan Pendapatan dan Efisiensi Ekonomi Usaha Ternak Sapi Potong Di Kabupaten Banjarnegara. Skripsi. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

 Suharto, E. 2007. Modal Sosial dan Kebijakan Publik. Artikel.

 Suharto, E. 2005a. Analisis Kebijakan Publik: Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial. Alfabeta. Bandung.

 Suharto, E. 2005b. Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Refika Aditama. Bandung.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: